
Strategi Politik Kelompok Bersenjata Organisasi Papua Merdeka (OPM) yang Mengatasnamakan Masyarakat Papua
Westnoken – Dalam beberapa tahun terakhir, kelompok Organisasi Papua Merdeka (OPM) terus memperlihatkan eksistensinya dengan berbagai aksi kekerasan, yang sering kali mengatasnamakan perjuangan untuk kemerdekaan Papua. Namun, di tengah ketegangan tersebut, muncul suara-suara dari masyarakat Papua, baik dari kalangan tokoh adat, tokoh pemuda, hingga masyarakat biasa, yang mendukung langkah pemerintah Indonesia untuk menindak tegas kelompok yang dinilai merusak kedamaian dan stabilitas di Papua.
Di sisi lain, kelompok OPM yang selama ini mengklaim mewakili aspirasi masyarakat Papua, sering kali dianggap sebagai pihak yang tidak representatif bagi mayoritas rakyat Papua. Bahkan, belakangan ini, sejumlah tokoh adat dan tokoh pemuda di Papua Tengah menyatakan dukungannya terhadap aparat keamanan dan militer yang berfokus pada penanganan kelompok Organisasi Papua Merdeka (OPM). Mereka menyuarakan keprihatinan atas dampak buruk yang ditimbulkan oleh aksi kekerasan kelompok ini, seperti pembunuhan, pemerasan, hingga perusakan fasilitas umum yang menghambat kemajuan dan kesejahteraan masyarakat Papua.
Salah satu contoh nyata adalah pernyataan yang dilontarkan oleh Koordinator Rembuk Pemuda Papua Tengah, yang mendukung penuh langkah tegas aparat keamanan dalam menjaga kedamaian di Tanah Papua. Rembuk Pemuda Papua Tengah juga menegaskan bahwa perjuangan yang selama ini dibawa oleh kelompok OPM bukanlah representasi dari seluruh masyarakat Papua. Mereka mengungkapkan bahwa mayoritas masyarakat Papua ingin hidup dalam damai, dengan akses yang lebih baik ke pendidikan, kesehatan, dan pembangunan ekonomi, yang justru terhalang oleh tindakan kekerasan yang dilakukan oleh kelompok-kelompok yang mengatasnamakan kemerdekaan Papua.
Namun, meskipun banyak masyarakat Papua yang menginginkan perdamaian, kelompok OPM terus melancarkan aksi-aksi teror dengan menargetkan aparat keamanan, serta warga sipil yang dianggap berafiliasi dengan pemerintah. Tindakan kekerasan ini, dalam beberapa kasus, bahkan melibatkan pembunuhan terhadap warga sipil yang tidak terlibat dalam konflik politik. Menurut sejumlah pengamat, hal ini menunjukkan bahwa kelompok OPM telah bergeser dari tujuan awal mereka, yang semula mungkin berlandaskan pada perjuangan kemerdekaan, menjadi kelompok dengan agenda politik yang lebih luas terutama dalam konteks geopolitik internasional.
Beberapa kalangan menilai bahwa OPM, dengan aksi kekerasannya, justru lebih menguntungkan pihak-pihak yang memiliki kepentingan politik terhadap Papua. Tindakan mereka kerap kali memunculkan ketegangan yang mengarah pada ketidakstabilan, bukan hanya di Papua, tetapi juga di level internasional. Sejumlah pihak mencurigai bahwa kelompok ini didalangi oleh kepentingan politik global yang berusaha memanfaatkan konflik ini untuk tujuan yang lebih besar. Dalam hal ini, perjuangan yang mereka klaim sebagai untuk kemerdekaan Papua kerap dipandang sebagai taktik yang digunakan untuk menarik perhatian internasional, dengan mengorbankan keselamatan rakyat Papua itu sendiri. Pada akhirnya, perdamaian di Papua tidak hanya membutuhkan penanganan terhadap kelompok bersenjata, tetapi juga pemahaman yang lebih dalam tentang keinginan dan harapan rakyat Papua, yang lebih menginginkan kesejahteraan dan keamanan daripada kekerasan dan ketidakpastian.
