WestNoken adalah platform informasi dan edukasi yang menghadirkan fakta-fakta objektif tentang Papua — dari sejarah, budaya, potensi alam, hingga dinamika sosial dan pembangunan terkini. Kami berkomitmen untuk melawan disinformasi dan menghadirkan narasi yang mencerahkan, seimbang, dan berbasis data. Melalui artikel, infografis, dan video edukatif, WestNoken mengajak pembaca untuk memahami Papua secara utuh: keindahan budayanya, perjuangan masyarakatnya, serta upaya nyata pemerintah dan warga dalam membangun tanah Papua yang damai dan sejahtera.
PERPECAHAN KELOMPOK OPM SEMAKIN JELAS KEPENTINGANNYA!!!
PERPECAHAN KELOMPOK OPM SEMAKIN JELAS KEPENTINGANNYA!!!

PERPECAHAN KELOMPOK OPM SEMAKIN JELAS KEPENTINGANNYA!!!

PERPECAHAN KELOMPOK OPM SEMAKIN JELAS KEPENTINGANNYA!!!

Westnoken, Jayapura – Di tengah perjuangan panjang untuk memerdekakan Papua, kelompok separatis OPM justru menghadapi perpecahan internal yang semakin tajam. Konflik kepemimpinan, perbedaan strategi perjuangan, serta pengaruh kuat identitas suku dan wilayah telah menciptakan faksi-faksi yang seringkali saling bersaing, bahkan bertentangan satu sama lain. Kondisi ini membuat gerakan kemerdekaan Papua semakin sulit untuk bersatu dan efektif dalam mencapai tujuannya.

Bukti dan Dinamika Perpecahan

1.       Konflik Kepemimpinan dan Faksi Bersenjata.

a.        Kasus Egianus Kogoya (2023–2025). Salah satu contoh nyata perpecahan adalah konflik antara Egianus Kogoya, komandan TPNPB-OPM Kodap III Ndugama, dengan pimpinan pusat OPM. Tindakan Kogoya yang menculik pilot Susi Air dan kemudian membebaskannya tanpa persetujuan pusat memicu tuduhan pengkhianatan dan ancaman pengadilan militer dari faksi lain dalam OPM. Perselisihan ini memperlihatkan lemahnya koordinasi dan otoritas pusat dalam mengendalikan faksi-faksi bersenjata.

b.        Tuntutan Pengunduran Diri dan Sanksi Internal. Setelah insiden pembebasan sandera, beberapa pimpinan OPM menuntut agar Kogoya mundur dan meminta maaf secara terbuka sebelum diizinkan kembali beroperasi. Bahkan, ada ancaman pengadilan militer internal terhadap dirinya dan kelompoknya.

2.       Struktur Organisasi yang Terfragmentasi.

a.        Banyaknya Faksi dan Komando Wilayah. OPM terdiri dari berbagai sayap bersenjata seperti TPNPB-OPM, TRWP, dan TNPB, yang masing-masing memiliki komando wilayah (Kodap) dan pemimpin sendiri. Tidak ada satu komando terpadu, sehingga setiap faksi sering bertindak secara independen, bahkan saling bersaing untuk pengaruh dan legitimasi.

b.        Tabel Faksi Utama OPM dan Pemimpinnya (2025):Faksi/Komando,  Pemimpin Utama, Wilayah Operasi : TPNPB-OPM (Goliath Tabuni)  Pegunungan Tengah, 29–36 Kodap Nduga, (Egianus Kogoya) Nduga, Kodap Lanny Jaya,  (Puron Wenda) Lanny Jaya, Kodap Pantai Utara, (Richard Hans Yoweni) Pantai Utara, perbatasan PNG TRWP, (Mathias Wenda) Jayapura–Wamena, TNPB dan serta yang kelompok-kelompok kecil lainnya seperti (Fernando Worobay) dll yang semua mengaku berjuan untuk masyarakat Papua namun kenyataannya bukan membangun Papua dan mesejahterakan Papua namun merusak, meneror, membunuh juga menghancurkan Papua demi kepentingan pribadi dan kelompoknya saja.

3.       Perbedaan Ideologi dan Strategi Perjuangan.

a.        Faksi Militan vs. Diplomasi. Sebagian faksi, terutama TPNPB, memilih jalur perlawanan bersenjata dan menolak negosiasi dengan pemerintah Indonesia. Sementara faksi lain, khususnya yang berfokus pada diplomasi internasional seperti ULMWP dan OPMRC, lebih mengedepankan lobi, advokasi damai, dan upaya mendapatkan dukungan dunia internasional.

b.        Pandangan Terhadap Negosiasi. Faksi militan cenderung menolak dialog, sedangkan faksi politik bersedia bernegosiasi asalkan ada jaminan referendum atau mediasi internasional.

4.       Faktor Geografis dan Suku.

a.        Pengaruh Identitas Suku. Papua terdiri dari lebih 250 suku, dan banyak faksi OPM terbentuk berdasarkan garis suku dan wilayah. Rivalitas dan loyalitas suku seringkali lebih kuat daripada solidaritas nasionalis, sehingga memperdalam fragmentasi.

b.        Kondisi Geografis. Medan pegunungan dan hutan lebat Papua membuat komunikasi dan koordinasi antar faksi semakin sulit, memperkuat otonomi lokal dan memperlemah komando pusat.

5.       Perpecahan Internal OPM (2023–2025).

a.        Feb 2023      Penculikan pilot Susi Air oleh Egianus Kogoya      Perdebatan internal soal taktik dan legitimasi.

b.        Sep 2024      Pembebasan sandera tanpa izin pusat  Tuduhan pengkhianatan, ancaman pengadilan militer.

c.        2025   Tuntutan pengunduran diri Kogoya, penangkapan anggota       Pelemahan faksi, ekspos kelemahan OPM.

d.        2023–2025    Meningkatnya disilusi publik, eks anggota kembali ke RI       Erosi legitimasi dan persatuan OPM. Fragmentasi internal membuat OPM semakin terlihat wajah asli kelompoknya yang bukan memperjuangkan masyarakat dan wilayah Papua untuk lebih baik namun hanya merusak Papua demi kepentingan politik kelompoknya.    Masyarakat Papua mulai paham dan meragukan representasi OPM, bahkan beberapa mantan anggota memilih kembali setia kepada Indonesia. OPM kini bukan lagi satu gerakan utuh, melainkan kumpulan faksi yang seringkali saling bertentangan. Sudah saatnya masyarakat Papua bersama-sama menjaga Papua dari kelompok-kelompok separatis OPM yang terus menghancurkan Papua dengan aksi-aksi teror, pembakaran, pembunuhan. Masyarakat Papua bersama Pemerintah Republik Indonesia juga Pemerintah Daerah harus saling bekerja sama membangun Papua untuk lebih baik kedepannya, menuju PAPUA SEJAHTERA, PAPUA DAMAI.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *