
Beasiswa Miliaran untuk Majukan Papua, AMP Sibuk Demo dan Agenda Politis
Westnoken, Jayapura — Pemerintah Indonesia melalui program beasiswa seperti Afirmasi Pendidikan Tinggi (ADik), Beasiswa Otonomi Khusus (Otsus), dan Afirmasi Pendidikan Menengah (ADEM) memberikan fasilitas pendidikan kepada ribuan mahasiswa asal Papua. Tujuan utama adalah membekali generasi muda Papua dengan ilmu pengetahuan berkualitas, sehingga mereka dapat kembali dan berkontribusi dalam memajukan pembangunan ekonomi, sosial, pendidikan, kesehatan, serta pemerintahan di tanah Papua.
Sejak 2009 hingga 2020, program beasiswa Otsus telah menghasilkan lebih dari 1.051 lulusan dari universitas dalam dan luar negeri, banyak di antaranya kini mengisi posisi strategis di berbagai instansi. Contoh inspiratif adalah Yulion Mirin, penerima beasiswa ADEM yang kuliah di Bali, yang bahkan menyisihkan uang sakunya untuk membantu anak-anak pedalaman Papua dengan alat tulis sekolah, menunjukkan semangat mandat pendidikan untuk kemajuan daerah asal.
Namun, di sisi lain, organisasi seperti Aliansi Mahasiswa Papua (AMP) sering dikritik karena lebih fokus pada aktivitas politis, seperti demonstrasi menuntut hak politik dan otonomi lebih luas, yang dianggap mengalihkan perhatian dari tujuan utama belajar. Banyak pihak menilai hal ini justru menimbulkan kegaduhan dan mengganggu proses pendidikan para penerima beasiswa yang difasilitasi negara.
Bahkan, sempat beredar sebuah video di media sosial tentang dugaan pengeroyokan terhadap seorang mahasiswa Papua di Bali, di mana korban yang sedang belajar menghadapi ujian diduga dikeroyok oleh sesama mahasiswa Papua yang sedang mabuk. Meski belum terkonfirmasi resmi oleh pihak berwenang, insiden semacam ini jika benar menjadi contoh ironis di mana fasilitas pendidikan justru terganggu oleh konflik internal, bertolak belakang dengan mandat pemerintah untuk menciptakan SDM unggul bagi kemajuan Papua.
