
Sadis, OPM Tembak Pilot dan Copilot Pesawat Smart Air di Korowai Boven Digoel Papua Selatan
Westnoken, Wamena – Aksi sadis yang diduga dilakukan oleh kelompok Organisasi Papua Merdeka (OPM) kembali menorehkan luka mendalam bagi Papua dan Indonesia. Penembakan pesawat perintis milik PT Smart Air Aviation dengan nomor registrasi PK-SNR di wilayah Korowai, Kabupaten Boven Digoel, Papua Selatan, bukan sekadar serangan bersenjata biasa. Peristiwa ini merupakan tindakan brutal yang merenggut nyawa dua awak penerbangan yang sedang menjalankan tugas kemanusiaan, menghubungkan daerah-daerah terpencil dengan dunia luar. Di tengah upaya membuka akses dan menghadirkan pelayanan bagi masyarakat pedalaman, kekejaman justru kembali dipertontonkan oleh kelompok separatis bersenjata OPM.
Detik-detik sebelum tragedi itu terjadi, pilot sempat mengirimkan pesan darurat yang menggambarkan situasi mencekam. “Tidak ada sinyal, mohon dilacak saja. Di Korowai kami ditembaki,” demikian bunyi pesan terakhirnya. Pesawat yang mengangkut 13 penumpang, termasuk seorang bayi, ditembaki sesaat setelah mendarat sekitar pukul 10.38 WIT. Dalam kondisi genting, kedua awak pesawat berupaya menyelamatkan diri. Namun laporan menyebutkan keduanya dikejar hingga ke hutan, lalu dibawa kembali ke lapangan terbang dan dieksekusi secara sadis. Tindakan tersebut bukan hanya pelanggaran hukum berat, tetapi juga bentuk nyata pengingkaran terhadap nilai-nilai Hak Asasi Manusia (HAM) yang seharusnya dijunjung tinggi oleh siapa pun.
Kementerian Koordinator Bidang Politik dan Keamanan telah mengonfirmasi menerima laporan awal dan tengah melakukan pendalaman. Aparat keamanan juga membenarkan bahwa Kapten Egon E dan Copilot Baskoro meninggal dunia akibat aksi tersebut. Fakta bahwa para penumpang selamat tentu patut disyukuri, namun hal itu tidak mengurangi sadisnya tragedi ini. Peristiwa ini memperlihatkan bahwa kelompok separatis bersenjata OPM berani menargetkan sarana transportasi yang menjadi urat nadi mobilitas dan distribusi kebutuhan masyarakat pedalaman Papua.
Pesawat perintis seperti Smart Air memiliki peran vital sebagai penghubung logistik, tenaga kesehatan, guru, serta berbagai kebutuhan pokok bagi warga di wilayah terisolasi. Keberadaannya sebagai simbol pelayanan dan harapan. Menyerang pesawat sipil sama artinya dengan mengganggu pelayanan publik dan mengancam keselamatan masyarakat Papua sendiri. Kekerasan tidak pernah menjadi solusi atas persoalan apa pun. Sebaliknya, tindakan teror hanya memperpanjang rantai ketakutan, menghambat pembangunan, dan memperdalam luka masyarakat Papua.
Tragedi ini harus menjadi momentum bersama untuk menegaskan bahwa pembunuhan dan teror tidak bisa ditoleransi dalam bentuk apa pun. Penegakan hukum perlu dilakukan secara tegas, profesional, dan terukur demi melindungi masyarakat serta menjaga keberlangsungan layanan vital di wilayah pedalaman. Papua membutuhkan kedamaian, rasa aman, dan kepastian hukum agar pembangunan dapat berjalan dan kesejahteraan masyarakat benar-benar terwujud. Dukungan pemerintah, aparat keamanan, tokoh masyarakat, serta seluruh elemen masyarakat Papua sangat diperlukan agar kekerasan tidak kembali terulang dan masa depan Papua dapat dibangun di atas fondasi perdamaian.
