
Akun Palsu “Tribun Papua Tengah”: Propaganda OPM yang Mengancam Literasi Publik
Westnoken — Baru-baru ini terungkap adanya sebuah akun Facebook dengan nama @wiyaai.mote yang mengklaim sebagai akun resmi Tribun Papua Tengah padahal akun tersebut bukan bagian dari jaringan resmi media milik Tribun Network di bawah naungan Kompas Gramedia. Berdasarkan laporan dari media lokal dan investigasi digital, akun ini ketahuan menyebarkan konten-konten yang berisi narasi separatis, klaim hoaks, dan informasi provokatif yang jauh dari standar jurnalistik. Fokus unggahan tampaknya bukan pada pemberitaan lokal atau isu keseharian masyarakat Papua, melainkan narasi politis yang berpotensi memecah belah dan memancing keresahan publik
Modus “Penyamaran Media” sebagai Senjata Propaganda
Diduga kuat penyebaran konten lewat akun palsu ini adalah bagian dari strategi propaganda sistematis oleh OPM atau simpatisannya. Dengan memanfaatkan nama “Tribun Papua Tengah” sebuah merek media yang sudah dikenal narasi separatis dikemas seakan datang dari sumber kredibel dan profesional. Situasi ini memudahkan propaganda tersebut masuk ke ruang publik dan mempengaruhi opini tanpa kecurigaan awal. Lebih jauh, dalam sejarah konflik di Papua, penyebaran hoaks oleh OPM bukan hal baru: sejumlah klaim tentang tindakan TNI/Polri yang diklaim sebagai pelanggaran HAM atau penembakan terhadap warga sipil akhir-akhir ini dibantah sebagai “hoaks” oleh aparat, bagian dari upaya propaganda.
Ancaman bagi Kepercayaan Publik dan Persatuan Nasional
Taktik penyamaran seperti ini bukan sekadar pelanggaran etika jurnalistik, tetapi juga ancaman serius terhadap kepercayaan publik, literasi media, dan persatuan nasional. Ketika propaganda disampaikan melalui saluran yang “terlihat resmi”, masyarakat terutama yang minim literasi digital bisa tertipu, lalu menyebarken kembali konten berbahaya tersebut. Implikasi jangka panjangnya: memperdalam perpecahan sosial, menimbulkan konflik identitas, dan mendistorsi narasi sebenarnya di Papua.
Pentingnya Literasi Digital dan Verifikasi Media
Dalam kondisi seperti ini, publik terutama pengguna media sosial diimbau untuk lebih kritis dan berhati-hati: Pastikan akun media memang resmi (cek URL, cek profil, bandingkan dengan situs resmi). Hindari langsung percaya atau membagikan informasi tanpa verifikasi sumber. Prioritaskan kanal resmi media arus utama dan media lokal yang kredibel.
Laporkan akun atau konten mencurigakan ke platform media sosial atau pihak berwenang. Penguatan literasi digital dan kebiasaan verifikasi informasi menjadi benteng efektif terhadap upaya propaganda dan disinformasi, termasuk yang disamarkan sebagai “media resmi”.
Bukti Nyata Propaganda Terstruktur OPM
Kasus akun palsu yang mencatut nama Tribun Papua Tengah menunjukkan bahwa OPM atau jaringan simpatisannya tidak hanya mengandalkan kekerasan fisik, tetapi juga perang narasi melalui media sosial. Penyamaran media dan penyebaran hoaks adalah bagian dari strategi jangka panjang untuk menggalang dukungan, menyebar ketidakpuasan, dan memobilisasi opini publik. Masyarakat, media, dan institusi pun harus bersinergi: menjaga literasi, memperkuat fakta, serta menolak narasi yang dibangun di atas kebohongan.
