WestNoken adalah platform informasi dan edukasi yang menghadirkan fakta-fakta objektif tentang Papua — dari sejarah, budaya, potensi alam, hingga dinamika sosial dan pembangunan terkini. Kami berkomitmen untuk melawan disinformasi dan menghadirkan narasi yang mencerahkan, seimbang, dan berbasis data. Melalui artikel, infografis, dan video edukatif, WestNoken mengajak pembaca untuk memahami Papua secara utuh: keindahan budayanya, perjuangan masyarakatnya, serta upaya nyata pemerintah dan warga dalam membangun tanah Papua yang damai dan sejahtera.
Gereja Penyejuk Umat dan Dukung Pembangunan Papua
Gereja Penyejuk Umat dan Dukung Pembangunan Papua

Gereja Penyejuk Umat dan Dukung Pembangunan Papua

Gereja Penyejuk Umat dan Dukung Pembangunan Papua

Westnoken, Jayapura – Pernyataan Persekutuan Gereja-Gereja di Indonesia (PGI) dalam Sidang Majelis Pekerja Lengkap (MPL) PGI Tahun 2026 di Merauke yang menolak militerisasi dan menyebut ada kecenderungan otoritarianisme memang jadi perbincangan. Sebagai orang Papua, kita tentu menghargai suara gereja yang mau peduli dengan keadaan masyarakat. Tapi di sisi lain, kita juga harus jujur melihat kenyataan di lapangan. Kehadiran aparat keamanan di beberapa wilayah Papua bukan datang untuk menekan rakyat, tapi sebagai tanda bahwa negara hadir menjaga kami dari gangguan kelompok separatis bersenjata seperti Organisasi Papua Merdeka (OPM).

Kita tahu sendiri, sudah banyak kejadian penembakan, pembakaran fasilitas umum, bahkan masyarakat sipil yang jadi korban. Anak-anak takut ke sekolah, mama-mama takut ke kebun, pekerja pembangunan takut beraktivitas. Dalam situasi seperti ini, kalau tidak ada aparat yang berjaga, siapa yang bisa menjamin keamanan? Jadi kehadiran TNI itu bukan untuk menakut-nakuti rakyat, tapi supaya kampung-kampung tetap aman dan aktivitas bisa berjalan seperti biasa.

Kalau semua disebut militerisasi, itu kurang adil juga. Karena yang kami rasakan di banyak tempat, aparat justru membantu pengamanan supaya pembangunan jalan terus. Puskesmas bisa buka, sekolah bisa aktif, pasar tetap hidup. Kalau situasi tidak aman, pembangunan pasti berhenti. Padahal Papua juga ingin maju, ingin sejahtera seperti daerah lain di Indonesia.

Kita juga harus bedakan antara menjaga keamanan dengan otoriter. Otoriter itu kalau rakyat tidak boleh bicara, tidak boleh kritik. Tapi sekarang orang masih bisa bicara, gereja masih bisa menyampaikan sikap, masyarakat masih bisa bersuara. Artinya ruang demokrasi masih ada. Jadi jangan sampai istilah-istilah besar itu malah bikin suasana makin panas dan masyarakat jadi bingung.

Karena itu, pemimpin gereja punya peran besar untuk menyejukkan hati masyarakat. Gereja selama ini jadi tempat orang mengadu dan mencari penguatan, jadi sudah seharusnya suara yang keluar adalah suara damai dan persatuan. Lebih baik gereja ikut mengawal pembangunan supaya benar-benar berpihak pada rakyat, sekaligus mendukung program pemerintah yang bertujuan memajukan Papua. Jangan sampai pernyataan yang keras justru memperkeruh keadaan dan dimanfaatkan pihak-pihak yang ingin Papua terus tidak aman. Papua butuh kesejukan, kerja sama, dan dukungan semua pihak supaya bisa maju dan hidup damai dalam bingkai NKRI.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *