
Ironi Berdarah di Tanah Papua: Ketika Pelaku Teror Berubah Wajah Menjadi Korban
Westnoken, Jayapura — Aksi teror di Papua terus bergulir, namun menjadi ironi dimana pelaku kekerasan berbalik tuding jari pada korban sejatinya. Kelompok separatis, yang sering disebut sebagai Kelompok Kriminal Bersenjata (KKB) atau Tentara Pembebasan Nasional Papua Barat-Organisasi Papua Merdeka (TPNPB-OPM), telah lama menabur teror dengan peluru dan api, menyemai ketakutan mendalam di hati warga sipil yang tak berdosa. Bayangkan, rumah-rumah dibakar, jalanan diblokir, dan nyawa tak berdosa direnggut dalam serangan brutal yang tak kenal ampun, semua atas nama “perjuangan” yang mereka klaim suci. Warga sipil, para pekerja migran, guru, dan petugas kesehatan menjadi sasaran empuk, terjebak dalam pusaran kekerasan yang membuat malam-malam mereka dipenuhi mimpi buruk akan suara tembakan yang menggema.
Contoh nyata dari aksi teror ini adalah tragedi Nduga pada Desember 2018, di mana TPNPB-OPM menyerang dan membunuh hingga 31 pekerja proyek Jalan Trans Papua di Kali Yigi dan Kali Aurak, Distrik Yigi. Para pekerja sipil dari PT Istaka Karya itu dieksekusi secara sadis hanya karena dianggap bagian dari proyek pemerintah, meski mereka tak bersenjata dan sedang membangun infrastruktur untuk kesejahteraan masyarakat. Serangan serupa berulang, seperti pada Maret 2025 di Distrik Anggruk, Yahukimo, di mana kelompok ini menyerang, membunuh, dan membakar hidup-hidup enam guru serta tenaga kesehatan, sambil merampok warga sekitar dan membakar gedung sekolah. Juru bicara TPNPB Sebby Sambom bahkan secara terbuka mengklaim tanggung jawab atas aksi ini, dengan alasan korban adalah “agen militer Indonesia” padahal mereka murni warga sipil yang bertugas mendidik dan menyembuhkan.
Namun, ironinya menusuk seperti pisau bermata dua. Saat aparat negara Tentara Nasional Indonesia (TNI) dan Kepolisian Republik Indonesia (Polri) bergerak tegas untuk melindungi rakyat dan memulihkan ketertiban, kelompok separatis ini tiba-tiba berubah rupa menjadi “korban” yang tak berdaya. Mereka berteriak lantang melalui propaganda yang dilebih-lebihkan, menggambarkan setiap operasi keamanan sebagai “pembantaian” atau “penindasan kolonial.” Media sosial dan jaringan internasional dijadikan panggung untuk memutarbalikkan fakta: serangan mereka terhadap warga sipil dilupakan, digantikan dengan narasi dramatis tentang “pelanggaran hak asasi manusia” yang konon dilakukan oleh negara. Padahal, semua kekacauan ini berakar dari aksi mereka sendiri sebuah lingkaran setan di mana pelaku menyalahkan cermin atas bayangannya yang mengerikan.
Pola pemutarbalikan ini terlihat jelas dalam kasus serangan terhadap guru dan nakes di Anggruk tersebut. Meski TPNPB mengklaim korban adalah “tentara berpakaian sipil” dan membenarkan aksinya sebagai perlawanan, mereka justru menuduh operasi evakuasi serta pengejaran TNI-Polri sebagai “genosida” atau “pelanggaran HAM sistematis” yang memaksa warga mengungsi. Begitu pula setelah operasi militer di berbagai distrik seperti Intan Jaya atau Yahukimo, di mana TNI menetralkan anggota bersenjata, TPNPB langsung menyebarkan narasi bahwa aparat “menyerang kampung sipil” atau “membom warga tak berdosa”, meski bukti menunjukkan operasi tersebut terukur untuk melindungi masyarakat dari teror berkelanjutan.
Ambil contoh ketika salah satu anggota separatis ditangkap atau dinetralisir dalam operasi militer. Alih-alih merefleksikan dosa mereka, kelompok ini langsung membangun benteng propaganda: “Ini pembungkaman suara rakyat Papua!” atau “Pelanggaran HAM yang sistematis!” Mereka memanfaatkan simpati global, menggugat Indonesia di panggung internasional, seolah-olah mereka adalah martir suci yang tak pernah menyentuh senjata. Ironi ini semakin menyakitkan ketika ingat bahwa konflik ini telah menelan ratusan nyawa sipil, merusak infrastruktur vital seperti sekolah dan rumah sakit, dan menghambat pembangunan di wilayah yang seharusnya menjadi surga kemakmuran.
Di balik tirai propaganda ini, terungkap pola yang menggelikan sekaligus tragis: kelompok separatis menabur angin, tapi menjerit saat menuai badai. Mereka yang membakar desa dan menembaki konvoi bantuan kemanusiaan kini berpura-pura sebagai korban perang yang tak adil. Sementara itu, warga Papua yang sejati mereka yang mendambakan kedamaian, pendidikan, dan kesejahteraan terjebak di tengah, menjadi sandera dari ambisi separatis yang haus kekuasaan. Apakah ini perjuangan hakiki, atau sekadar sandiwara berdarah untuk mempertahankan eksistensi mereka yang rapuh?
Konflik Papua bukan sekadar pertarungan senjata; ia adalah panggung ironi di mana kebenaran sering terkubur di bawah tumpukan dusta. Saatnya dunia melihat melampaui propaganda, mengakui bahwa perdamaian sejati hanya lahir dari dialog, bukan dari laras senapan yang tak pernah diam.
