
Menjawab Provokasi Penolakan PGI terhadap Proyek Food Estate Merauke: Fakta, Manfaat, dan Komitmen Perlindungan
Westnoken, Jayapura – Proyek Strategis Nasional (PSN) food estate di Merauke adalah inisiatif vital untuk ketahanan pangan nasional dan pembangunan ekonomi Papua, dengan penerapan berbagai langkah perlindungan lingkungan dan upaya pelibatan masyarakat lokal. Penolakan sepihak tanpa melihat data dan fakta lapangan berpotensi menghambat kemajuan dan kesejahteraan masyarakat Papua secara luas. Penolakan yang disuarakan oleh Persekutuan Gereja-Gereja di Indonesia (PGI) terhadap Proyek Strategis Nasional (PSN) food estate di Merauke perlu disikapi secara kritis dan proporsional. Proyek ini bukan sekadar agenda pemerintah pusat, melainkan upaya strategis untuk memperkuat ketahanan pangan nasional, mengurangi ketergantungan impor, serta mendorong pertumbuhan ekonomi dan kesejahteraan masyarakat Papua, khususnya di Merauke. Tuduhan bahwa proyek ini mengancam kelestarian alam dan hak masyarakat adat tidak sepenuhnya berdasar jika melihat fakta-fakta dan kebijakan yang telah diterapkan di lapangan.
1. Manfaat Ekonomi dan Pemberdayaan Lokal.
a. Ketahanan Pangan Food estate. Merauke dirancang sebagai lumbung pangan nasional, mengurangi ketergantungan impor dan menjaga stabilitas harga pangan.
b. Penciptaan Lapangan Kerja. Model pertanian korporasi dan koperasi melibatkan masyarakat lokal, membuka peluang kerja luas, dan mengentaskan kemiskinan.
c. Peningkatan Pendapatan. Integrasi petani lokal ke rantai pasok meningkatkan pendapatan rumah tangga dan status ekonomi masyarakat adat.
d. Pembangunan Infrastruktur. Investasi besar pada irigasi, jalan, dan logistik mempercepat akses layanan dasar dan peluang ekonomi di pedesaan.
Proyek food estate Merauke telah menciptakan peluang ekonomi baru, meningkatkan pendapatan, dan memperkuat infrastruktur yang sangat dibutuhkan masyarakat Papua.
2. Komitmen Perlindungan Lingkungan dan Keberlanjutan.
a. AMDAL & RKL-RPL. Setiap proyek wajib melalui analisis dampak lingkungan (AMDAL) dan rencana pengelolaan lingkungan (RKL-RPL) yang ketat.
b. Konservasi Keanekaragaman Hayati. Pengembangan lahan difokuskan pada area non-hutan/degradasi, menjaga koridor ekologis dan habitat satwa liar.
c. Pertanian Berkelanjutan. Diterapkan teknik ramah lingkungan, pengelolaan hama terpadu, dan integrasi tanaman-ternak.
d. Pengawasan & Audit. Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan (KLHK) melakukan audit dan inspeksi rutin.
Proyek food estate Merauke tunduk pada regulasi lingkungan nasional yang ketat, dengan pengawasan berlapis untuk meminimalkan dampak ekologis dan menjaga kelestarian alam.
3. Perlindungan dan Keterlibatan Masyarakat Adat.
a. Konsultasi & Partisipasi Pemerintah telah melakukan sosialisasi dan konsultasi, namun pelaksanaan Free, Prior, and Informed Consent (FPIC) masih perlu diperkuat.
b. Perlindungan Hak Tanah Ada mekanisme pengakuan hak ulayat, namun implementasinya masih menghadapi tantangan di lapangan.
c. Pemberdayaan Ekonomi Model pertanian korporasi dan koperasi membuka peluang bagi masyarakat adat untuk terlibat dan memperoleh manfaat ekonomi.
d. Pelestarian Budaya Diperlukan upaya lebih sistematis untuk menjaga warisan budaya dan mata pencaharian tradisional masyarakat adat.
Pemerintah terus memperbaiki mekanisme pelibatan masyarakat adat dan memastikan hak-hak mereka terlindungi secara nyata, namun menolak proyek secara total justru berisiko menutup peluang kemajuan bagi masyarakat Papua sendiri.
4. Kepentingan Nasional dan Strategis.
a. Proyek food estate Merauke adalah bagian dari agenda strategis nasional untuk memastikan ketersediaan pangan, mengurangi ketimpangan pembangunan, dan memperkuat kedaulatan ekonomi Indonesia.
b. Dengan potensi lahan hingga 1,9 juta hektar, Merauke berperan sebagai pilar utama ketahanan pangan nasional dan penggerak ekonomi kawasan timur Indonesia.
Penolakan sepihak terhadap proyek food estate Merauke tanpa melihat data dan fakta lapangan adalah bentuk provokasi yang dapat menghambat kemajuan Papua dan Indonesia. Proyek ini telah dirancang dengan memperhatikan aspek lingkungan, ekonomi, dan sosial, serta terus diperbaiki untuk memastikan keterlibatan dan perlindungan masyarakat adat. Yang dibutuhkan adalah pengawalan, perbaikan, dan dialog konstruktif, bukan penolakan total yang justru merugikan masyarakat Papua sendiri.
Proyek food estate Merauke adalah peluang besar bagi Papua dan Indonesia. Dengan pengawasan ketat, pelibatan masyarakat adat, dan komitmen pada keberlanjutan, proyek ini layak didukung demi masa depan yang lebih baik bagi semua.
