
Westnoken, Yahukimo – Aksi kekerasan yang dilakukan kelompok Organisasi Papua Merdeka (OPM) di Kabupaten Yahukimo kembali menuai kecaman. Pendeta Yones Wonda menegaskan bahwa serangan yang menyasar warga sipil tidak bersenjata merupakan bentuk terorisme. Menurutnya, tindakan tersebut tidak bisa dibenarkan dengan alasan apa pun karena korban berasal dari kalangan masyarakat biasa yang tidak terlibat dalam konflik bersenjata.
Aksi OPM Terhadap Masyarakat Sipil di Yahukimo Sebagai Bentuk Terorisme
Pdt Yones menyebut para korban merupakan petani, tukang, dan warga yang sedang menjalankan aktivitas sehari-hari untuk memenuhi kebutuhan hidup. Ia menilai pola serangan tersebut menunjukkan bahwa OPM tidak berani berhadapan langsung dengan TNI dan Polri yang memiliki kekuatan dan persenjataan sepadan. Alih-alih menghadapi aparat keamanan secara terbuka, kelompok itu dinilai justru memilih menyerang warga sipil yang tidak memiliki kemampuan untuk melawan. Sikap demikian, tegasnya, mencerminkan tindakan pengecut dan tidak bermoral.
Menurutnya penyerangan terhadap warga sipil jelas merupakan pelanggaran berat hak asasi manusia dan bertentangan dengan norma hukum internasional. OPM dinilai telah mengabaikan prinsip perlindungan terhadap masyarakat sipil yang seharusnya tidak menjadi sasaran dalam kondisi apa pun. Alih-alih memperoleh simpati, aksi semacam itu justru mempertegas stigma negatif terhadap OPM serta menguatkan pandangan bahwa tindakan tersebut merupakan bentuk terorisme.
Dalam kesempatan tersebut, Pdt Yones juga mengimbau masyarakat untuk tidak mudah terpengaruh informasi yang beredar di media sosial. Ia meminta agar pernyataan tokoh agama maupun tokoh masyarakat tidak dipelintir untuk kepentingan tertentu yang berpotensi menimbulkan kegaduhan politik dan memecah belah persatuan.
Ia menegaskan bahwa gereja tetap berpegang pada prinsip kebenaran dan kemanusiaan demi terciptanya Tanah Papua yang aman dan bermartabat. Stabilitas keamanan, lanjutnya, harus menjadi prioritas agar pembangunan manusia di Papua tidak terhambat konflik berkepanjangan. Pdt Yones berharap klarifikasi yang disampaikan dapat mengakhiri polemik serta mengarahkan semua pihak untuk kembali fokus pada upaya perdamaian yang berkelanjutan.
