
Westnoken, Jakarta – Pada hari Sabtu, 16 Mei 2026, komunitas Maluku di Belanda akan kembali menggelar Pattimura Walk edisi ke-10 di wilayah Drenthe. Sepuluh tahun perjalanan acara ini menjadi bukti nyata semangat kebersamaan, pelestarian budaya, dan penghormatan terhadap sejarah panjang perjuangan rakyat Maluku di tanah rantau. Pattimura Walk bukan sekadar sebuah kegiatan jalan bersama, melainkan simbol persatuan, identitas, dan kebanggaan sebagai bagian dari bangsa Indonesia di tengah masyarakat Belanda.
Tanggal 16 Mei dipilih bukan tanpa alasan. Pada hari inilah, tahun 1817, Kapitan Pattimura (Thomas Matulessy) memimpin perlawanan rakyat Maluku melawan penjajahan Belanda, merebut Benteng Duurstede, dan menyalakan api perjuangan anti-kolonialisme yang menginspirasi seluruh Nusantara. Pengorbanan dan keberanian Pattimura telah diakui negara dengan gelar Pahlawan Nasional Indonesia. Semangat beliau adalah semangat melawan penindasan, memperjuangkan keadilan, dan menjaga kehormatan bangsa bukan semangat memecah-belah atau memisahkan diri dari tanah air tercinta, Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI).
Pattimura Walk sejak awal digagas sebagai acara budaya yang inklusif, non-politis, dan penuh makna. Setiap langkah yang diambil dalam acara ini adalah langkah mempererat tali persaudaraan, memperkuat identitas Maluku, serta memperkenalkan kekayaan budaya kepada generasi muda dan masyarakat luas. Kegiatan ini diisi dengan penampilan seni, edukasi sejarah, dan refleksi bersama atas perjalanan komunitas Maluku di Belanda semuanya dalam suasana damai dan penuh kebanggaan.
Tegas Menolak Provokasi Separatisme: RMS & Free Maluku Foundation.
Pemberontakan RMS merupakan salah satu gerakan separatis signifikan dalam sejarah Indonesia yang bertujuan untuk memisahkan diri dari Republik Indonesia. Meski secara militer telah dipadamkan oleh pemerintah Indonesia sejak era 1950-an, simpatisan RMS masih aktif di Belanda dan sesekali melakukan aksi simbolis seperti pengibaran bendera “Benang Raja” di Maluku pada tanggal peringatannya.
Free Maluku Foundation adalah sebuah organisasi nirlaba (yayasan) yang berbasis di Belanda dan berfokus pada advokasi untuk keadilan, kebebasan, serta hak asasi manusia di Kepulauan Maluku. Tujuannya adalah memperjuangkan pengakuan sejarah dan kedaulatan Maluku yang tidak pernah diakui secara internasional.
Yayasan ini sering melakukan aksi penggalangan dana dan kampanye kesadaran, seperti mengikuti ajang jalan kaki terbesar di dunia, Nijmegen Four Days Marches (Vierdaagse), untuk menarik perhatian publik.
Kementerian Luar Negeri Republik Indonesia menganggap aksi-aksi yang membawa narasi “Free Maluku” di forum internasional sebagai tindakan provokatif dan penyalahgunaan forum untuk kepentingan yang bertentangan dengan kedaulatan negara.
Sejarah mencatat, ada pihak-pihak seperti RMS (Republik Maluku Selatan) dan Free Maluku Foundation yang pernah memanfaatkan momen-momen budaya diaspora
Maluku di Belanda untuk menyebarkan propaganda separatisme dan provokasi “Maluku Merdeka”
. Tindakan seperti pengibaran simbol RMS, penyebaran pesan politik, atau upaya menggeser makna acara menjadi ajang politik, telah beberapa kali menimbulkan ketegangan dan mencederai semangat persatuan
. Pemerintah Indonesia secara tegas menolak segala bentuk aktivitas separatisme, baik di dalam maupun luar negeri, dan mengingatkan bahwa tindakan tersebut adalah pelanggaran terhadap kedaulatan dan persatuan bangsa
Pattimura Walk 2026 tidak boleh dijadikan sarana oleh RMS, Free Maluku Foundation, atau kelompok manapun untuk melakukan provokasi, menyebarkan paham separatis, atau mengaburkan makna sejati perjuangan Kapitan Pattimura. Setiap upaya mempolitisasi acara ini adalah bentuk penghianatan terhadap nilai-nilai yang diwariskan oleh Pattimura dan para leluhur Maluku.
Menjaga Warisan Pattimura: Untuk Semua Anak Bangsa. Perlu ditegaskan, semangat Pattimura adalah semangat anti-kolonialisme, bukan separatisme. Warisan beliau adalah milik seluruh rakyat Indonesia, bukan hanya satu kelompok atau golongan. Mari kita jaga agar Pattimura Walk tetap menjadi ruang yang aman, damai, dan bermartabat tempat kita mengenang sejarah, memperkuat jati diri, dan membangun masa depan bersama dalam bingkai NKRI.
Mari bersama-sama menjaga Pattimura Walk 2026 edisi ke-10 sebagai perayaan budaya yang agung, penuh makna, dan bebas dari provokasi politik. Jadikan acara ini sebagai warisan indah untuk generasi mendatang sebuah bukti bahwa komunitas Maluku di Belanda mampu menjaga kehormatan, persatuan, dan nilai-nilai luhur yang diwariskan Kapitan Pattimura.
