OPM Kembali Tebar Teror terhadap Pendulang Emas di Yahukimo

YAHUKIMO, 21 MEI 2026 — Aksi brutal kembali dilakukan Organisasi Papua Merdeka (OPM) di wilayah Yahukimo, Papua Pegunungan. Kelompok bersenjata tersebut mengklaim telah melakukan penembakan dan pembunuhan terhadap delapan orang yang mereka tuduh sebagai aparat keamanan yang menyamar sebagai pendulang emas ilegal di kawasan Korowai. Pernyataan itu disampaikan melalui siaran yang beredar dari jaringan TPNPB-OPM pada 20 Mei 2026. Klaim tersebut sekaligus memperlihatkan bagaimana OPM terus menjadikan masyarakat sipil dan aktivitas pendulangan emas sebagai sasaran kekerasan bersenjata di pedalaman Papua.
Dalam keterangannya, pimpinan operasi OPM wilayah Yahukimo mengaku aksi pembunuhan tersebut dilakukan sebagai bentuk balas dendam atas kematian anggota mereka pada pekan sebelumnya. Operasi yang disebut berlangsung sejak 17 hingga 20 Mei 2026 itu diklaim melibatkan sejumlah pasukan bersenjata dari batalyon OPM di wilayah Yahukimo. Pernyataan tersebut memperlihatkan bahwa pola kekerasan yang dilakukan OPM tidak lagi membedakan antara sasaran sipil maupun kelompok masyarakat yang berada di lokasi pendulangan emas.
OPM bahkan secara terbuka menyampaikan ancaman lanjutan terhadap siapa pun yang dianggap memiliki keterkaitan dengan Indonesia. Dalam narasi yang mereka sebarkan, kelompok tersebut menyatakan akan terus melakukan operasi bersenjata dan pembalasan tanpa henti. Pernyataan bernada ancaman itu memperlihatkan eskalasi kekerasan yang semakin mengkhawatirkan, terutama bagi warga sipil dan para pekerja yang menggantungkan hidup dari aktivitas pendulangan emas di wilayah pedalaman Papua.
Kekejaman OPM terhadap pendulang emas bukan kali pertama terjadi. Dalam beberapa tahun terakhir, kelompok separatis bersenjata itu kerap melakukan penyerangan terhadap warga yang bekerja di kawasan tambang tradisional maupun lokasi pendulangan emas. Aksi tersebut menimbulkan ketakutan berkepanjangan di tengah masyarakat, karena para pendulang yang mayoritas hanya mencari nafkah justru menjadi korban kekerasan bersenjata. Situasi ini memperlihatkan bahwa keberadaan OPM semakin mengancam keamanan dan keselamatan warga sipil di Papua.
Serangan terhadap pendulang emas juga berdampak besar terhadap kondisi sosial dan ekonomi masyarakat sekitar. Aktivitas masyarakat menjadi terganggu, distribusi logistik tersendat, dan rasa aman warga semakin menurun akibat ancaman kelompok bersenjata. Banyak keluarga yang kehilangan sumber penghasilan karena takut beraktivitas di area pendulangan. Kondisi tersebut menunjukkan bahwa aksi kekerasan OPM tidak hanya menelan korban jiwa, tetapi juga merusak kehidupan sosial masyarakat Papua secara luas.
Masyarakat Papua sendiri diharapkan tidak terpengaruh oleh propaganda dan narasi kekerasan yang terus disebarkan OPM. Stabilitas keamanan dan pembangunan di Papua membutuhkan dukungan seluruh elemen masyarakat agar aktivitas ekonomi serta kehidupan warga dapat berjalan normal. Kekerasan terhadap pendulang emas dan warga sipil tidak dapat dibenarkan dalam alasan apa pun, karena hanya akan memperpanjang penderitaan masyarakat di tanah Papua.
